Renstra Politeknik ATI Makassar

Rencana strategis (Renstra) ini merupakan lanjutan Renstra Akademi Teknik Industri ATIM Makassar Tahun 2009-2014, sebelum menjadi Politeknik ATI Makassar. Renstra ini dirancang dengan mempertimbangkan berbagai aspek strategis serta berdasarkan pada visi induk lembaga Politeknik ATI Makassar yaitu Pusat Pendidikan dan Pelatihaan Kementerian Perindustrian. Renstra juga merupakan kristalisasi cita-cita dan komitmen bersama civitas akademika Politeknik ATI Makassar tentang kondisi ideal masa depan yang ingin dicapai. Capaian yang diharapkan tentunya mempertimbangkan potensi yang
dimiliki, permasalahan yang dihadapi dan berbagai kecenderungan perubahan lingkungan yang dinamis di lingkungan Politeknik ATI Makassar.

   Sebagai lanjutan dari renstra sebelumnya, maka perlunya mengetahui capaian yang diharapkan pada renstra sebelumnya. Renstra Periode 2009-2014 Politeknik ATI Makassar memiliki 3 Program Penguatan, yaitu Peningkatan Kompetensi Industri, Program Penguatan Kelembagaan Pendidikan dan Pelatihan dan Program Pengembangan Informasi serta Sarana dan Prasarana.
Capaian Program Peningkatan Kompetensi Industri meliputi kegiatan pendidikan dan pelatihan struktural maupun fungsional dalam bidang teknis dan non teknis industri berbasis kompetensi, pengembangan pengetahuan tenaga pengajar dan pegawai, pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia industri kecil dan menengah (SDM IKM), rintisan pendidikan gelar, dan rintisan pendidikan non gelar. Capaian program Peningkatan Kompetensi Industri telah memberikan hasil yang positif namun masih perlunya pengembangan lebih lanjut dalam peningkatan kapasitas dan kompetensi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan.

   Capaian Program Penguatan Kelembagaan Pendidikan dan Pelatihan terdiri atas kegiatan pengembangan standar pelayanan umum bidang pendidikan, pengembangan minat bakat dan sikap mental SDM peserta didik, pengembangan kurikulum/ bahan ajar/silabi berbasis kompetensi, pengembangan penelitian dan pengkajian teknologi industri, pengembangan standar kompetensi, penguatan kelembagaan unit pendidikan, pengembangan kerjasama dengan lembaga pelatihan dan pendidikan dalam dan luar negeri, membangun dan memperkuat jalinan komunikasi dengan asosiasi industri untuk pengembangan SDM Industri, pengembangan bantuan pendidikan peserta didik. Program Penguatan Kelembagaan Pendidikan dan Pelatihan pada Periode 2009-2014 telah berkontribusi positif, namun juga diharapkan peningkatan di berbagai sektor yang disebutkan dalam program ini. Terutama dalam pengembangan kerjasama dengan industri dan perguruan tinggi.

   Capaian ketiga adalah Program Pengembangan Informasi/Sarana dan Prasarana. Kegiatan pengembangan informasi/sarana dan prasarana meliputi kegiatan pengembangan sistem informasi aplikasi pendidikan, pengembangan fasilitas/peralatan laboratorium sesuai standar proses belajar mengajar, pengembangan perangkat managemen information system (MIS) dalam lingkup nasional, regional dan internasional. Sarana dan prasarana di lingkungan Politeknik ATI Makassar telah menunjukkan peningkatan yang signifikan terutama dalam fasilitas gedung dan sarna laboratorium. Namun, pengembangan sistem informasi akademik dan pengelolaan sumber daya masih perlu pengembangan leih lanjut.

   Berdasarkan ketiga capaian besar pada Renstra Tahun 2009-2014 maka terdapat perkembangan yang signifikan dan berbagai program yang perlu ditingkatkan lagi. Oleh sebab itu untuk mendukung tercapainya visi Politeknik ATIMakassar maka perlunya dilakukan kegiatan terkait dengan perbaikan kurikulum mengacu kepada kurikulum berbasis kompetensi, peningkatan sistem pembelajaran, perbaikan manajemen mutu pengajaran, peningkatan kompetensi lulusan, peningkatan kualitas riset terapan yang dipublikasikan serta pengembangan kemitraan strategis dengan perguruan tinggi terkait dan industri. Kegiatan perbaikan dan peningkatan kualitas terhadap program tidak dapat dilepaskan dari kemampuan segenap komponen Politeknik ATI Makassar untuk memaknai berbagai isu strategis. Isu strategis selanjutnya dipahami akan mempengaruhi sistem Politeknik ATI Makassar.

   Isu strategis antara lain isu Globalisasi dimana menjelaskan keterkaitan faktor yang saling berpengaruh antara masyarakat ekonomi ASEAN (MEA), tingkat pengangguran tinggi, dan bonus demografi. Isu selanjutnya adalah perubahan ATIM menjadi Politeknik ATI Makassar. Isu ketiga yaitu visi pembangunan industri nasional dan isu yang keempat adalah isu pengembangan pendidikan vokasi Pusdiklat Kementerian Perindustrian.

   Dalam era globalisasi, semua faktor produksi, keuangan, teknologi, jasa, informasi dan peralatan dapat bergerak melintasi tapal batas negara tanpa kesulitan berarti. Dunia terasa menjadi semakin sempit, jarak terasa semakin dekat, waktu terasa berjalan semakin cepat, dan mobilitas orang dan barang semakin tinggi. Kondisi tersebut akan mempunyai implikasi langsung terhadap penyelenggaraan pendidikan tinggi nasional. Implikasi-implikasi yang dimaksud adalah:

   Pertama, tenaga kerja terdidik dari luar negeri yang masuk ke Indonesia akan semakin besar, sehingga persaingan dunia kerja bagi lulusan perguruan tinggi semakin ketat. Kesiapan pendidikan tinggi dalam menyiapkan lulusan yang kompeten sangat memegang peranan penting utamanya dalam menghadapi persaingan di Kawasan ASEAN dalam konteks Masyarakat Ekonomi ASEAN
(MEA)

Kedua, perguruan tinggi luar negeri akan semakin mudah menyelenggarakan pendidikan di Indonesia, sehingga calon mahasiswa mempunyai peluang yang tinggi untuk memilih perguruan tinggi yang berkualitas. Hal demikian berarti bahwa persaingan antar perguruan tinggi untuk menarik mahasiswa akan semakin ketat. Persaingan tersebut tidak hanya meyangkut output, melainkan juga biaya penyelenggaraan perguruan tinggi dan kinerja penyelenggaraan pendidikan tinggi, baik yang terkait dengan sumberdaya
manusia, fasilitas maupun manajemen. Faktor tingginya tingkat pengangguran di Indonesia utamanya di kalangan usia produktif dan lulusan perguruan tinggi, menjadi tantangan berat bagi pemerintah, sehingga diperlukan peran penting lembaga pendidikan untuk menghasilkan lulusan yang mampu terserap di dunia industri. Di sisi lain, bonus demografi penduduk Indonesia, dimana jumlah penduduk dengan usia produktif akan menjadi keuntungan tersendiri jika mampu dimanfaatkan dengan efektif mungkin. Jika penduduk Indonesia dalam usia produktif memiliki kompetensi dan kemampuan bekerja akan mendorong pergerakan industri di Indonesia.

B. Potensi dan Permasalahan

Untuk mewujudkan visi dan misi Pusdiklat Kemeterian Perindustrian, maka berikut ini dijabarkan kondisi eksisting (terkini) Politeknik ATI Makassar yang meliputi kondisi internal (kekuatan dan kelemahan) serta kondisi eksternal (peluang dan tantangan).

a. Kekuatan
  1. Lulusan Politeknik ATI sejak tahun 2014 telah mendapatkan sertifikat kompetensi BNSP sebagai pengakuan kompeten dalam bidang terkait.
  2. Dosen Politeknik ATI Makassar memiliki sertifikat dosen, asesor kompetensi dan asesor lisensi.
  3. Interaksi dosen-mahasiswa cukup baik di berbagai aktivitas belajar mengajar antara lain kegiatan asistensi, praktikum, perkuliahan dan penelitian.
  4. Adaptasi sistem pembelajaran full block
  5. Ketersediaan sarana dalam mendukung kualitas lulusan antara lain sarana Laboratorium, Tempat Uji Kompetensi dan Lembaga Sertifikasi Profesi.
  6. Biaya Pendidikan yang terjangkau di banding Perguruan Tinggi Vokasi di Sulawesi Selatan.
  7. Reputasi Politeknik ATI Makassar ditandai dengan semua jurusan berakreditasi B.
  8. Politeknik ATI Makassar berstandar Manajemen Mutu ISO 9001: 2008.
  9. Manajemen yang kuat dan inovatif
  10. . Tercapainya beberapa program kerjasama dengan pemerintah daerah dan pihak industri.
b. Kelemahan
  1. Kualitas input mahasiswa yang masih terbatas. Dimana rasio calon mahasiswa baru dengan jumlah kuota 2:1.
  2. Masih terdapat dosen tidak linearitas keilmuan
  3. Masih kurangnya kegiatan pengabdian masyarakat terkait bidang keilmuan keteknikindustrian.
  4. Masa tunggu mahasiswa untuk mendapatkan pekerjaan, masih tinggi.
  5. Masih terbatasnya akses pengalaman magang/kerja di perusahaan industri/pabrik
  6. Kurangnya pemanfaatan sistem informasi pendukung operasional.
  7. Kompetensi tenaga kependidikan (administrasi) kurang memadai untuk mendukung pelaksanaan program dengan efektif.
  8. Iklim kerja yang kurang kondusif dan kompetitif menyebabkan karyawan kurang profesional
  9. Masih terbatasnya penelitian terapan dosen dan mahasiswa yang diterima di jurnal nasional terakreditasi dan jurnal internasional
c. Peluang
  1.  Perkembangan pesat industri nasional/multinasional yang membutuhkan kompetensi lulusan vokasi keteknikindustrian.
  2. Orientasi pemerintah terhadap industri manufaktur pengolahan sumber daya alam
  3. Beberapa alumni sudah menduduki posisi pengambil keputusan penting di industri dan pemerintah.
  4. Permintaan dari perusahaan terhadap keahlian keteknikindustrian untuk menyelesaikan problem industri.
  5. Permintaan terhadap lulusan keteknikindustrian di berbagai bidang industri.
  6. SMU-SMK favorit di Kawasan Timur memiliki program-program unggulan sebagai input mahasiswa unggulan.
  7. Dukungan UU mengenai SDM yang kompeten
d. Tantangan
  1.  Pendanaan hanya bergantung pada APBN
  2. Keharusan untuk mengikuti sistem mutu pendidikan sesuai dengan regulasi Badan Akreditasi Nasional.
  3. Tuntutan lulusan untuk memiliki sertifikasi kompetensi
  4. Daur hidup produk teknologi yang makin pendek memicu perkembangan teknologi yang sangat pesat, menuntut agresivitas penelitian-penelitian terapan baru.
  5. Perguruan Tinggi Vokasi di Indonesia pesaing seperti Polman Bandung, Politeknik Manufaktur Babel, PENS dan PPNS Surabaya, PNUP. Beberapa Politeknik di Wilayah Sulawesi Selatan antara lain Politani Pangkep, Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Perindustrian 10 Akademi Teknik Sorowako, Politeknik Bosowa, serta Politeknik di bawah Kementerian Perindustrian.
  6. Kesulitan mencari “teaching industry” bagi mahasiswa untuk kerja praktek dan tugas akhir.
Renstra ( Rencana Startegis ) Politeknik ATI Makassar  Selengkapnya: RENSTRA
×

Hello!

Ada yang bisa kami bantu?

× Kontak Via Whatsapp